Jumat, 28 Februari 2014

Mak Recok: Menghadapi Anak yang Dibuli


Menghadapi anak yang dibuli sulit juga. Mak Recok tak habis pikir dengan putra ketiganya yang tampan dan pintar itu. Dia pikir anak tampan dan cerdas akan selalu baik-baik saja dalam dunia pergaulannya. Nyatanya tidak. 

Putranya nyaris mogok les karena alasan dibuli ini. Tapi setelah digali lebih dalam rupanya yang mendapat perlakuan sama bukan Cuma putranya. Tapi beberapa anak juga. Dan buli yang dilakukan secara berjamaah ini sebenarnya ‘wajar’ saja dilakukan. Mak Recok mencoba maklum. Di rumahnya, putranya adalah satu-satunya anak pria. Ketiga saudaranya adalah wanita. Hidup sehari-hari dengan empat wanita tentunya membuat dia ‘sedikit’ bergaya ‘halus’. Putranya bukanlah seorang lelaki gemulai. Tapi dia menyikapi buli ini dengan perasaan kepekaan seorang anak wanita.

Oh, plis deh, itu semua analisa salah. Karena dari tiga putrinya kesemuanya termasuk golongan tomboy. Jadi dimana letak kesalahan pada kerapuhan mental sang putra tunggal? bukan kerapuhan mental! Tapi kehalusan perasaan. Redaksi berbeda bisa membuat perbedaan yang cukup signifikan ya!  Kerapuhan mental itu terkesan negative, sedangkan kehalusan perasaan adalah hal yang positif.

“Aku nggak mau les lagi!” kata putranya.
“Kalo pindah kelas gimana?” Tanya mak recok buntu.
“Yee, si ibu! Emang dikelas baru anak-anaknya baik-baik? Bisa jadi lepas masalah lama dapat masalah baru” Oh, siapa sangka putrid ABGnya bisa berpikir bijak?

Akhirnya mak Recok cerita tentang bagaimana dia melalui masa kecilnya. Dia bersyukur sampai usianya tua dia belum pernah dibuli temannya. “Yah, siapa yang mau ngebuli ibu? mereka yang takut bu…” putri ABGnya tertawa. Putranya mulai tersenyum. Maka diteruskanlah cerita mak Recok.

Bahwa kebanyakan pembuli itu kekurangan kasih sayang, cari perhatian. Dan sebaliknya pihak yang dibuli sebenarnya bisa mengambil keuntungan. Semakin hari mentalnya akan semakin kuat.

“Mungkin ini karena ibu kalo berdoa selalu minta agar Allah menguatkan jiwa raga kalian. Agar jiwa kalian kuat, maka Allah memberi cobaan seperti itu.”

Syukurlah, keesokan harinya, sang Putra menghadapi sekolah les, dan pertemanan biasa lagi. Waktu ditanya masihkah ada yang membulinya, dia jawab: “Woles ajalah bu…”

Kamis, 27 Februari 2014

Mak Recok:Menyeleksi Calon Menantu



Walaupun anak-anak  Mak Recok belum memasuki usia pernikahan, tapi persiapan menuju jenjang itu sudah harus dilakukan sejak kini. Bukan masalah curi mencuri start. Ini bisa sama kasusnya dengan merancang memiliki bayi. Tahap pertama adalah bagaimana mencari jodoh/bakal calon orang tua anak kita. Jadi memang segala hal dalam hidup ini harus direncanakan bukan?

Maka saat membaca note teman SMPnya di Face Book, bagaimana si temannyanya ini mencari calon menantu di jalan raya, mak Recok langsung setuju.

Sepertinya melakukan seleksi calon menantu di jalan raya menjadi hal yang tepat untuk masa ini. Kamu bisa menilainya mulai dari Calmen (Calon menantu) menyalakan mesin. Apakah telingamu bisa menangkap kata bismilah? Doa berpergian? Doa nabi Nuh saat menjalankan bahtera? Kamu bisa membuat kolom point dalam isian penilaian.  Semakin panjang doa, semakin besar poinnya.

Tenang bu, point yang besar pada doa belum tentu membuat dia lolos. Karena jangan lupa, kita menaruh juda point minus untuk setiap kesalahan teknis di jalan raya.

Bawa Calmen ibu/bapak ke jalur-jalur neraka kotamu. Setidaknya kita bisa mendapat sedikit gambaran bagaimana dia bersabar menghadapi kemacetan. Bagaimana etikanya di jalan raya. Sekalipun dia menyalakan music jazz bosasnova/fusion/blues favorit   ibu/bapak, dan menyediakan aneka jajanan cemilan sepanjang jalan, dan tak lupa mengisi bensin penuh, dan tak lupa berulang kali menawarkan :
“bubur ayam, Bu?” “star buck coffee?” “Pecel?” “Ketoprak”… dan aneka menu sarapan lainnya…
Jangan sekali-kali terlena, tergiur. Tetaplah konsentrasi dengan bagaimana dia ‘di jalan raya’.
                Apakah kata-kata “F***k you” atau,  “Anj**t” dan asesories kata sumpah serapah lainnya keluar dari mulutnya saat pengendara lain nyalip, belok tanpa lampu singh, macet tanpa henti? Atau mobil mogok?

 Saya kira itu semua terlalu berlebihan, usia siap menikah, tentunya telah dijauhkan dari kata-kata yang biasa keluar dari ABG. Tapi kau akan tahu bagaimana dia menanggapi semua itu bukan?
Aku jadi penasaran, bagaimana respon Calmenku bila di tengah kemacetan tiba-tiba aku bilang begini:
“Maaf, ibu pengen pipis, bisa carikan tempatnya?”

Atau dengan lebay, aku mulai bergaya tiba-tiba kena maag aku: “Hoek… Hoek…”

Sungguh membuat penasaran responnya akan seperti apa.


Sabtu, 22 Februari 2014

TABLET Bu Iroh

Mak Recok lebih senang mengamati aneka mimik ibu-ibu di pengajian saat bu Iroh membuka tabblet barunya. Ada yang colek-colekan sama sebelah. Ada yang bibirnya melengkung ke bawah. Mengangkat alis. Mak Recok hampir tak menangkap wajah yang 'biasa saja'.

Tapi kemudian mak Recok menangkap senyum ganjil lainnya. Olala, rupanyo ibu-ibu pengajian melihat bu Iroh gugup menjalankan tabletnya. Maksud hati dia akan mencatat ceramah ustad, tapi yang berhasil dia tulis hanya beberapa kalimat saja.

Amin.

Mak Recok tersenyum maklum, dia si gaptek alay, tentulah merasakan kegugupan itu. Apalagi saat surat Yasin berkumandang dalam nada stacato. Bertempo cepat. Hanya lidah-lidah yang terlatihlah yang dapat mengikuti ritmenya. Dan bu Iroh, begitu gugupnya mencari halaman Yasin di tabletnya. Olala.

Mak Recok kembali maklum. Karena Mak Recok merasa seperti itulah dirinya. Ibarat dia yang biasa menulis di sabak (batu tulis hitam untuk belajar anak jaman dahulu), kini harus dihadapkan dengan perangkat secanggih tablet.

Kalau bisa, agar terasa evolusinya, mak Recok minta versi Puyer saja dulu, jika dia sudah cukup pandai menelan, bolehlah pake tablet.




Selasa, 24 Juli 2012

Indonesian Life Style

Indonesian life style become the picture of nation. What they do everyday become the picture of the quality of nation. The quality of nation is determined by the quality of education, because education have been apply from the beginning of age. The quality of nation is begun from kindergarten school, they will build our behavior in the future, continue with further education on preliminary school and then high school.

As teacher should be provided with complete education, behavior, communication, and ethics, in order they can share this knowledge to their student. Without this education teacher can't give a right education and even share to their student. Many times found teacher with bad behavior, but we don't realize that the teacher never got enough education such as behavior, communication, and even ethics.